Senin, 30 September 2013

Merajut Cinta Setelah Prahara

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

وصلاة الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه وإخوانه أجمعين إلى يوم الدين

أما بعد
Adalah suatu kesedihan yang sangat, apabila sesuatu yang digadang gadang akan indah pada waktunya, menjadi hancur sebelum berkembang...

Adalah suatu bencana, apabila sesuatu yang dibangun dengan susah payah ahirnya dirobohkan dalam waktu seketika...

Adalah suatu musibah, apabila suatu pohon yang telah menghasilkan buah, ditebang sebelum buahnya masak...

Mahligai rumah tangga adalah sesuatu yang dibangun untuk meraih kebagiaan antara dua sejoli, berkasih sayang diantara keduanya, saling mengisi antara keduanya, saling menasehati dalam keta'aatan kepada Allah. Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم : 21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)
 

Akan tetapi kenyataan yang terjadi, tidaklah semua rumah tangga mempunyai cerita cinta seindah kisah yang tertulis didalam lembaran lembaran dongeng atau cerita romansa..
Bahkan tidak sedikit didalam hubungan suami istri terjadi sikap kaku, mau menang sendiri, saling curiga, saling membenci satu dengan yang lainnya. Inilah beberapa sebab yang terjadi:

Sebab Dari Dalam

Hal ini tentulah mempunyai sebab yang beragam, mungkin dari istri, atau dari suami. Akan tetapi sebab utama yang biasanya terjadi adalah kedua pasang sejoli atau salah satunya tidak menunaikan tugas-tugas rumah tangganya dengan baik sesuai dengan syari’at Islam. Jika sang istri benar-benar menjadi istri yang shalihah yang menjalankan tugas rumah tangganya dengan baik, demikian juga sang suami benar-benar merupakan suami yang sejati yang menunaikan tugasnya dengan baik maka tidak diragukan lagi janji Allah bahwasanya kebahagiaan dan kemesraan akan diperoleh dalam pernikahan.

Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, dialah yang harusnya bertanggung jawab terhadap sesuatu yang terjadi dalam rumah tangganya.. 
Sedangkan seorang istri adalah tawanan suaminya,  dia harus ta'at kepada suaminya dalam hal yang ma'ruf. 

Akan tetapi yang sangat menyedihkan adalah salah satu pihak maunya menang sendiri, seorang suami dengan modal hadits Nabi yang mulia shallahu ‘alaihi wa sallam,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya”. HR AT-Tirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366)

Menuntut istrinya agar menunaikan haknya sebagai suami, namun dilain sisi dia tidak memperhatikan hak hak istrinya, tidak mau mengalah terhadap istrinya dalam berbagai masalah, seakan akan hanya dengan memberikan uang bulanan telah selesai kewajibanya sebagai seorang suami. apakah demikian Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh kepada kita cara menjadi suami yang baik?? Padahal Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam orang yang jauhhh lebih sibuk dibandingkan dengan kita... Perhatikan contoh akhlaq Nabi kita!!

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku”
(HR At-Thirmidzi no 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no 1977 dari hadits Ibnu Abbas dan dishahihakan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))
Beliau juga bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”.
(HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284))

Lihatlah! seorang yang baik akhlaqnya terhadap istrinya dikatakan oleh Nabi sebagai orang yang terbaik. Bahkan tanda sempurnanya iman seseorang... Tetapi hadits ini banyak dilalaikan oleh para suami... 
Berkata Imam Asy-Syaukani, “Sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  ((Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istri-istri mereka)) dan juga pada hadits yang lain ((Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya)), pada kedua hadits ini ada peringatan bahwasanya orang yang tingkat kebaikannya tertinggi dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan kemudhorotan. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.
Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain (selain istrinya) maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufiq (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” (Nailul Author VI/360)

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Sikap engkau terhadap istrimu hendaknya sebagaimana harapan engkau akan sikap suami putrimu sendiri. Maka sikap bagaimanakah yang kau harapkan dari lelaki tersebut untuk menyikapi putrimu??, apakah engkau ridho jika ia menyikapi putrimu dengan kasar dan kaku?. Jawabannya tentulah tidak. Jika demikian maka janganlah engkau menyikapi putri orang lain dengan sikap yang engkau tidak ridho jika diarahkan kepada putrimu sendiri. Ini merupakah kaidah yang hendaknya diketahui setiap orang….” (Asy-Syarhul Mumti’ XII/381)

Sebab Dari Luar

1. Sebab Dari Syaithan

Sebenarnya ini bisa dikatakan juga merupakan sebab dari dalam, karena apabila salah satu pasangan marah kepada yang lainnya, maka syaithan akan membisikkan kepadanya berbagai macam tipu daya, serta membesar besarkan masalah yang sebenarnya masalah itu kecil, misalkan: Syaitan berkata, “Sudahlah ceraikan saja dia, masih banyak wanita yang sholehah, cantik lagi…, ayolah jangan ragu-ragu…”. Syaitan juga berkata, “Cobalah renungkan jika engkau hidup dengan wanita seperti ini…., bisa jadi di kemudian hari ia akan lebih membangkang kepadamu..”. Atau syaitan berkata, “Tidaklah istrimu itu bersalah kepadamu kecuali karena ia tidak menghormatimu…atau kurang sayang kepadamu, karena jika ia sayang kepadamu maka ia tidak akan berbuat demikian…”. Dan demikanlah bisikan demi bisikan dilancarkan syaitan kepada para suami.. atau sebaliknya.
Solusinya ialah kita memohon kepada Allah agar menjagadiri dan keluarga kita dari was was syaithan.

2. Sebab Dari pihak Keluarga

Dalam mengarungi biduk rumah tangga ada kalanya terjadi gesekan gesekan antara menantu dengan mertua, antara saudara dengan pasangan kita, dll. Itu bisa terjadi karena banyak hal, mungkin karena kurangnya komunikasi, kurangnya pengertian, perbedaan adat, atau jeleknya akhlaq, dll. Apabila masalah ini terjadi seharusnya pertama yang harus mengambil sikap adalah suami, karena dia pemimpinya, dia harus bisa merumuskan solusi terbaik, tentu saja ini harus didukung sepenuhnya oleh istri.. Bukan malah salah satu pihak tanpa cek dan ricek melabrak pasanganya, selalu menyalahkan keluarganya, serta seolah2 tidak ingin adanya islah atau perbaikan dengan mencari berbagai alasan..
Ketahuilah wahai saudaraku, dalam pernikahan tidak hanya menyatukan 2 orang saja, akan tetapi disitu ada hak hak orang tua, saudara, kerabat, yang harus diperhatikan. Disana ada pertalian 2 keluarga besar. Kita harus bisa menunaikan kewajiban kita terhadap mereka, karena kewajiban kita adalah hak mereka... terutama kepada mertua kita, karena dari merekalah pasangan kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, sehingga kita tinggal menikmati hasilnya... Renungkanlah!!
Namun apabila keluarga salah satu pasangan memang berakhlaq yang jelek, maka kita harus bersabar, dan selalu berusaha untuk memberikan nasehat...

3. Sebab Dari WIL/PIL

Inilah penyebab yang banyak terjadi, yaitu berkurangnya perhatian, kasih sayang, dan cinta seseorang terhadap pasangannya, diakibatkan karena ada seseorang yang dimasukkan dengan sengaja kedalam hati...
Dia menanam rasa kepada selain pasangannya, sebagaimana dia dulu menanam rasa itu kepada pasangannya sekarang...
Dia merawat rasa kepada selain pasangannya, sebagaimana dia dulu merawat rasa itu kepada pasangannya sekarang...
Inilah Sumber malapetaka yang banyak terjadi (walau sebagian pelakunya telah "ngaji"). Dengan alasan syari'at poligami, maka sesuatu yang harus dihindari (pacaran, dll) malah didekati, sesuatu yang harusnya dibenci (berdua duaan, dll) malah digemari...

Wahai saudaraku besabarlah!!
Mungkin apa yang kita lihat ada di WIL/PIL, dan tidak ada pada istri kita adalah hanya kamuflase dari syaithan saja, yang menampakkan seolah olah istri kita penuh dengan kekurangan..
Coba perhatikan!!
Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci  sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” [HR Muslim II/1091 no 1469 dan الفَرْكُ maknanya adalah (البُغْضُ) benci (Lihat Al-Minhaj X/58)]

Berkata An-Nawawi, “Yang benar adalah Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam melarang, yaitu hendaknya dia tidak membencinya karena jika mendapati sikap (akhlak) yang dibencinya pada istrinya maka ia akan mendapati sikapnya yang lain yang ia ridhai. Misalnya wataknya keras namun ia wanita yang taat beribadah, atau cantik, atau menjaga diri, atau lembut kepadanya, atau (kelebihan-kelebihan) yang lainnya”[Al-Minhaj syarh shahih Muslim X/58]

Seseorang yang paling sedikit mendapat taufiq dari Allah dan yang paling jauh dari kebaikan adalah seorang yang melupakan seluruh kebaikan-kebaikan pasangannya, atau pura-pura melupakan kebaikan-kebaikan pasangannya dan menjadikan kesalahan-kesalahan pasangannya selalu di depan matanya. Bahkan terkadang kesalahan pasangannya yang sepele dibesar-besarkan, apalagi dibumbui dengan prasangka-prasangka buruk yang akhirnya menjadikannya berkesimpulan bahwa pasangannya sama sekali tidak memiliki kebaikan...

NASEHAT

Wahai saudaraku marilah kita menjadi penyebab datangnya kebaikan, baik bagi kita maupun bagi orang lain, bukan malah menjadi sebab kehancuran untuk orang lain...

Selayaknya kita takut dengan ancaman berikut!!

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ وَمَنْ خَبَّبَ عَلَى امْرِئٍ زَوْجَتَهُ أَوْ مَمْلُوكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا
مسند أحمد (46/ 454)

dari ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang bersumpah dengan amanah dan barangsiapa merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya atau budak dengan tuannyanya, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (H.R.Ahmad 454/46)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ
سنن أبى داود – م (2/ 220) ».

dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, atau seorang budak terhadap tuannya.” (H.R.Abu Dawud, 2/220)

Memisahkan pasangan suami istri dan merusak rumahtangga mereka juga menjadi program utama Iblis dan tentaranya utnuk menimbulkan fitnah dan kerusakan di muka bumi. Imam Muslim meriwayatkan;
صحيح مسلم (13/ 426)
عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ
dari Jabir berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda: “Iblis mendekatinya lalu berkata: ‘Bagus kamu.” (H.R.Muslim)


Ibnu Taimiyah berkata;
الفتاوى الكبرى (2/ 313)
فَسَعْيُ الرَّجُلِ فِي التَّفْرِيقِ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَزَوْجِهَا مِنْ الذُّنُوبِ الشَّدِيدَةِ، وَهُوَ مِنْ فِعْلِ السَّحَرَةِ، وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ فِعْلِ الشَّيَاطِينِ.

Upaya seseorang untuk memisahkan istri dengan suaminya adalah diantara dosa-dosa berat, termasuk perbuatan tukang sihir, dan sebesar-besar perbuatan Syetan (Al-Fatawa Al-Kubro, vol.2 hlm 313).


Wahai para suami, marilah kita sama sama mulai merajut kembali rajutan benang yang mungkin mulai terurai didalam mahligai rumah tangga kita...
Menata kembali kepingan kepingan rasa yang mungkin mulai sirna, agar kembali tertata...
Marilah perbaiki sikap kita kepada pasangan kita, sebagaimana kita ingin agar pasangan kita bersikap baik kepada kita...
Marilah selalu berdoa kepada Allah agar kita dan pasangan kita diberi keturunan yang shaleh dan shalehah..
Marilah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan keluarga kita sebagai penyejuk pandangan mata kita, menjadikan kita, anak anak kita dan pasangan kita, orang orang yang menegakkan shalat... Amin.

Wallahu A'lam bishawab..

Dari kamar kontrakan dengan ditemani Zaujati... 
Saudara kalian, Abu Aisyah...





Tidak ada komentar: