Senin, 26 April 2010

Ilmu Sanad Adalah Anugerah Allah تعالى

ILMU SANAD ADALAH ANUGERAH ALLAH تعالى

Segala puji bagi Allah تعالى. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Adalah ahlul bid’ah dari dahulu hingga sekarang tak henti hentinya mereka menyebarkan berbagai macam kerancuan kerancuan kepada umat Islam. Dari hal hal yang dianggap hanya mustahab (padahal hal tersebut tidak ada dalilnya) sampai hal hal yang dapat menjadikan seseorang menjadi kafir / musyrik. Untuk tujuan itu mereka tidak segan segan menukil hadits dha’if, bahkan palsu. Dan apabila borok mereka dibongkar oleh para ulama Ahlul Hadits, maka diantara mereka tidak segan segan mengatakan bahwa ilmu sanad hanya menukil dari orang orang mati?! Sementara mereka dapat langsung bertemu dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم atau bahkan Allah تعالى.

Sungguh ini adalah kedustaan yang nyata!

Siapa yang mereka katakan orang mati? Mereka adalah Ulama umat Islam, para Imam madzhab, para Tabi’in, para Sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, bahkan Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri telah wafat. Kalau kita tidak mengambil agama dari mereka, kepada siapa lagi kita akan mengambil agama? Sungguh perkataan mereka ini dapat merusak aqidah dan sangat berbahaya!, karena bisa saja orang yang melakukan mut’ah/nikah kontrak (berzina) berkata: “telah dihalalkan kepadaku mut’ah oleh Rosululloh waktu aku bertemu beliau semalam!”, atau perkataan lainnya.

Dan kenyataannya para sahabat sampai ulama zaman kita sekarang, mereka memakai serta ridho dengan ilmu sanad, bahkan ilmu sanad merupakan bentuk penjagaan Allah dan anugerah Allah kepada umat ini, yang tidak dimiliki umat umat terdahulu. Untuk lebih jelasnya, maka kita simak pembahasan berikut ini:

Allah تعالى Berfirman:

أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ

“Atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu).” (QS. Al-Ahqof: 4)[1]

1. Mathar bin Thahman Al-Warroq (Wafat 125 H) Menafsirkan firman Allah تعالى diatas:

“Yang dimaksud adalah sanad-sanad hadits.”

Atsar shahih. Diriwayatka oleh Ar-Rahahurmuzi dalam Al-Muhadditsull Fashil (209) dan Al-Khathib Al-Baghdadi didalam Syarful Ash-Habil Hadits (83), dari jalan Yazid bin Wahb ia mengatakan: berkata kepada kami Dhamroh bin Habib dari Ibnu Syaudzab dari Mathor.

Aku katakana (Syaikh): Sanadnya shahih.

Sebagian manusia merasa aneh dengan penafsiran ayat ini bahwa yang dimaksud dengan-nya adalah sanad hadits, padahal ini bukanlah sesuatu yang aneh dikalangan ahli ilmu dan ma’rifat.
Aku katakan (Syaikh): penafsiran Mathar Al-Warroq adalah benar, dan tafsir berdasarkan perbedaan lafazh secara tekstual pada akhirnya menunjukkan pengertian yang banyak lagi shahih… dan penafsiran itu jika memungkinkan untuk diungkapkan semuanya, tanpa mengurangi satupun, maka hal itu tidaklah mengapa didalam syariat… pahamilah semoga Allah تعالى menjagamu.

Berkata Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqot (4/120): “Temasuk penyelisihan yang tidak dianggap suatu bentuk penyelisihan ada dua macam”:
Salah satunya (pen), “Sesuatu yang teksnya menyelisihi sedangkan hakekatnya tidak demikian. Sebagaimana sering terjadi didalam penafsiran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Anda akan jumpai para ahli tafsir akan menukil dari ulama salaf tentang makna lafazh Al-Qur’an sekian pendapat yang berbeda secara tekstual. Namun jika anda perhatikan, akan anda dapati ternyata pendapat pendapat mereka bertemu pada satu makna. Kemudian diambil semua tanpa merusak maksud ulama yang menyatakannya, maka tidak boleh dikatakan bahwa didalamnya terjadi perselisihan.”

Aku Katakan (Syaikh): Penafsiran Mathar Al-Warroq ini telah disebutkan oleh As-Sakhawi dalam Fathul Mughits (1/3) dan ia menguatkan pendapat ini. Demikian juga As-Suyuti dalam Tadribur Rawi (2/160). Ini akan dijelaskan oleh dalil berikut:

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Bersabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم:

تَسْمَعونَ َويُسْمَعُ مِنْكُمْ, َويُسْمَعُ مِمَّّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ.

“Kalian mendengar dan akan mendengar dari kalian, serta akan mendengar dari orang orang yang mendengar dari kalian.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam As-Sunan (4/68), Al-Hakim dalam Mustadrak (1/95), dalam Ma’rifatul Ulum Hadits (27), Ibnu Abu Usamah dalam Al-Musnad (34), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/120), Al Harawi dalam Dzammul Kalam (5/196), Ibnul Khathab dalam Masyikah (90), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi (1/43), Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro (1/250), Syu’abul Iman (5/369), dan Dalailun Nubuwah (5/539), Ibnu Adi Hatim dalam Al-Jarh wat Ta’dil (1/8), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (1/219), Imam Ahmad dalam Al-Musnad (1/321), dll. Dari beberapa jalan dari Al-A’masy dari Abdullah bin Abdillah Ar-Razi, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas.
Aku Katakan (syaikh): sanadnya hasan.

Berkata Al-‘Allani dalam Jami’ At-Tahshil (52): “Tentang Abdulloh bin Abdillah, An-Nasa’i berkomentar tidak mengapa dengannya, ia ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban, tidak ada seorang-pun ‘Ulama yang melemahkannya, dan Haditsnya Hasan.

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (4/389).

Sabda Beliau صلى الله عليه وسلم : “Kalian mendengar dan mendengar dari kalian” yaitu berita dengan makna perintah, atau kalian hendaknya mendengarkan dariku hadits lalu sampaikanlah hadits tersebut dariku, dan hendaknya mendengarkannya orang setelahku dari kalian.
“Dan akan mendengar dari orang yang mendengarkan dari kalian”, yang lainnya mendengarkan dari orang yang mendengarkan dari kalian haditsku. Demikian orang setelah mereka dan seterusnya. Dengan demikian tersebarlah ilmu dan tertunaikanlah dakwah yang merupakan kewajiban para ‘ulama. (lihat Aunul Ma’bud, Al-Abadi (10/94).

Aku Katakan (Syaikh) : Ini merupakan pelaksanaan amanat dan penyampaian risalah.

2. Dari Abu Bakar bin Ahmad, Ia berkata:

“Telah sampai kepadaku bahwa Allah تعالى telah mengkhususkan umat ini dengan tiga perkata, yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya: Al-Isnad, Al-Ansab, dan Al-I’rab.”

Atsar shahih. Diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Syarfu Ash-Habil Hadits (84) dari jalan Muhammad Al-Bazzar ia berkata: berkata kepada kami Shalih bin Ahmad Al-Hafizh: aku mendengar Abu Bakar berkata dengannya.

3. Berkata Muhammad bin Hatim Al-Muzhaffir:

“Bahwa Allah تعالى telah memuliakan umat ini dan mengutamakannya dengan isnad (ilmu sanad), dan tidak ada seorangpun dari umat umat dahulu dan sekarang mengenal ilmu sanad ini…”

Atsar shahih. Diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Syarfu Ash-Habil Hadits (84), dari jalan Muhammad Ad-Dainuri ia berkata : berkata kepada kami Ibrahim bin Muhammad Al-Muzakki: aku telah mendengar Abul Abbas Muhammad As-Sakhusi mengatakan: aku mendengar Muhammad bin Hatim dengannya.

4. Berkata Abdullah bin Al-Mubarak:

“Menurutku sanad merupakan bagian dari agama, kalau bukan karena sanad, pastilah orang akan berkata sesuka hati dan semaunnya sendiri,”

Atsar shahih. Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqoddimah shahih-nya (1/15), At-Tirmidzi dalam Al-Illah Ash-Shaghir (5/340), Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wat Ta’dil (1/16), Al-Hakim dalam Al-Ma’rifah Ullumul Hadits (8), As-Sam’ani didalam Adabul Imla’ wal Istimla’ (6), Al-Khathib dalam Syarful Ash-Habil Hadits (86) dari jalan Abdan ia mengatakan: aku telah mendengar Abdulloh berkata dengannya.

Dan diikuti oleh Ali bin Al-Hasan ia berkata: Aku mendengar Abdulloh bin Mubarok.
Diriwayatkan oleh Ar-Ramahurruzi dalam Al-Muhadditsul Fashil (109) dari jalan Abu Abdurrohman Ibnu Syabuyah dengannya.

Allah تعالى berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikru, dan sesungguhnya Kami benar benar memelihara-Nya.” (QS. Al-Hijr:9)

Aku (Syaikh) katakana : Ilmu sanad dan perhatian terhadapnya termasuk dari penjagaan Allah تعالى terhadap Agama-Nya.

Tidak diragukan bahwa hadits nabawi termasuk “Adz-Dzikru” pada firman Allah تعالى diatas (lihat Al-Isnad minad Din wa min Khasha’iish Umat Sayyidil Mursalin, DR. Ashim Al-Qorowaini, hal. 15).

Saat Abdulloh Ibnu Mubarrok ditanya tentang hadits-hadits palsu ia berkata: “Dihidupkan untuk perkara ini oleh Allah pada pakar ilmu hadits. Allah تعالى berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikru, dan sesungguhnya Kami benar benar memelihara-Nya.” (QS. Al-Hijr:9)

Berkata Ibnu Hazm dalam Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam (1/121): “Allah تعالى berfirman tentang Nabi-Nya:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَو إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

Dan Allah تعالى memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk mengatakan:

أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-Ahqof: 9)

Allah تعالى berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikru, dan sesungguhnya Kami benar benar memelihara-Nya.” (QS. Al-Hijr:9)

Benarlah ucapan Rosululloh صلى الله عليه وسلم bahwa agama adalah wahyu yang turun dari sisi Allah تعالى dan ini tidak diragukan lagi. Tidak ada perselisihan diantara ahli bahasa dan syari’at bahwa semua wahyu itu turun dari Allah تعالى dan ia merupakan “Adz-Dzikr,” maka wahyu itu semuanya terjaga dengan penjagaan Allah تعالى.

Berkata Al-Hakim didalam Ma’rifah Ulumul Hadits (6): “Mencari sanad ‘Ali (sanad yang tinggi tingkatannya) merupakan sunnah yang shahi… Kalau bukan karena sanad dan pencarian ahli hadits terhadapnya, serta jerih payah mereka untuk menghafalkannya, niscaya hilang rambu rambu agama Islam. Dan pastilah ahli bid’ah dan orang orang yang menyimpang akan lebih berani memalsukan hadits hadits dan membolak balik sanad dan riwayat. Karena riwayat itu apabila kosong dari sanad, pastilah akan rusak.”

Berkata Abu Bakar bin Al-‘Arabi: “Allah memuliakan umat ini dengan ilmu sanad yang tidak Ia karuniakan kepada umat yang lain. Maka, waspadalah kalian dari mengikuti jalan orang orang yahudi dan nasrani, yaitu berbicara tanpa sanad. Yang demikian itu menjadi kenikmatan Allah tercabut dari kalian, sehingga kalian akan menjadi orang yang tertuduh, dan turut serta bersama kaum yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah تعالى, serta menempuh jalan mereka.” (Al-Kuttabi dalam Fahrasil Faharis 1/80).

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubro (1/9): “Ilmu sanad dan riwayat termasuk keitimewaan yang dikaruniakan Allah تعالى kepada umat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan dijadikannya sebagai tangga memahami ilmu dirayat. Sementara ahli kitab tidak memiliki ilmu sanad yang dapat mereka gunakan untuk melakukan penukilan. Demikian juga halnya ahli bid’ah dari umat ini adalah para penyesat. Ilmu sanad itu hanyalah untuk orang yang Allah تعالى limpahkan kenikmatan yang agung, yaitu ahli Islam dan sunnah; dengannya mereka memisahkan yang shahih dan yang dho’if, yang bengkok dan yang lurus. Adapun orang orang selain mereka dari kalangan ahli bid’ah dan orang orang kafir, hanya memiliki sekedar penukilan tanpa sanad dan itu dijadikan sebagai patokan dalam agama. Mereka tidak mengenali didalamnya mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang masih bisa digunakan dan mana yang tidak.”

Berkata Ibu Shalah dalam Ulumul Hadits (215): “Muasal ilmu sanad itu ialah keistimewaan yang penuh dengan keutamaan dari sekian banyak keistimewaan umat ini dan sunnah yang sempurna dari sunnah sunnah yang sangat ditekankan.”

Imam Muslim meriwayatkan di dalam mukaddimah Shahihnya dari Ibnu Sirin, yang berkata, “Dulu mereka tidak pernah mempertanyakan tentang Sanad, namun tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Tolong sebutkan kepada kami para perawi kalian.!’ Lalu dilihatlah riwayat Ahlussunnah lantas diterima hadits mereka. Demikian pula, dilihatlah riwayat Ahli Bid’ah, lalu ditolak hadits mereka.”

Sejak itu, mulailah sikap Tatsabbut (cek ricek) dan berhati-hati ditunjukkan oleh para shahabat junior yang masih hidup saat terjadinya fitnah itu. Di dalam mukaddimah Imam Muslim, dari Mujahid, ia berkata, “Basyir al-‘Adawi mendatangi Ibn ‘Abbas, lalu menyampaikan hadits dan berkata, ‘Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda …. Rasulullah bersabda….’ Lalu Ibn ‘Abbas tidak mengizinkannya menyampaikan hadits itu (tidak mendengarnya) dan tidak melihatnya. Maka orang itu berkata, ‘Hai Ibn ‘Abbas, kenapa aku tidak melihatmu mendengarkan haditsku ini? Aku menyampaikan hadits dari Rasulullah sedang engkau tidak mau mendengarkan.’ Ibn ‘Abbas berkata, ‘Pernah suatu kali, dulu kami bila mendengar ada orang yang mengatakan, ‘Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda…,’ maka pandangan-pandangan kami langsung tertuju kepadanya dan telinga-telinga kami khusyu’ mendengarkan kepadanya. Namun tatkala manusia didera kesulitan dan kehinaan, kami tidak pernah mengambil dari orang-orang selain apa yang telah kami kenal.’”

Kemudian, para tabi’in mulai menuntut diadakannya Sanad, ketika kedustaan terhadap Rasulullah merejalela. Abu al-‘Aliyah berkata, “Dulu kami mendengar riwayat di Bashrah dari para shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kami tidak rela hingga berangkat ke Madinah, lantas mendengarnya langsung dari mulut-mulut mereka.”

Ats-Tsauri berkata, “Sanad adalah senjata seorang mukmin. Bila ia tidak memiliki senjata, maka dengan apa ia akan berperang.?”

Syu’bah berkata, “Setiap hadits yang tidak terdapat di dalamnya (kalimat) ‘Haddatsana dan Akhbarana’, maka ia seperti seorang laki-laki di tanah lapang bersama seekor keledai yang tidak memiliki tali kekang.”

Diriwayatkan dari Ibn Sirin, ia berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu.!”

Al-Auza’i berkata, “Tidaklah hilang ilmu melainkan karena hilangnya Sanad.”

Dan ana (Abu Aisyah) berkata: adalah Ilmu ini merupakan bentuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an telah dijaga Allah dari perubahan baik huruf dan lafazhnya maka tafsir dari Al-Qur’an (yaitu berupa sunnah) juga pasti dijaga Allah dengan ilmu ini.

Pembahasan ini disarikan dari kitab Al-Azhar Al-Mantsuroh fi Tabyini Anna Ahlal Hadits Hum Al-Firqotu An-Najiyah wath-Thoifah Al-Manshuroh, penulis Abu Abdurohman al-Atsari, dengan tambahan seperlunya.

Sebuah Faedah Penting

Cukup mengejutkan ketika ana mendengarkan sebuah diskusi seorang ustadz dan seorang tokoh masyarakat yang telah dianggap ulama’. Ketika dengan entengnya Beliau (tokoh) yang menyadang gelar tertinggi dalam bangku kuliah mengatakan : “Imam Syafi’i kalau mau bertemu dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mudah tinggal ketemu aja”. Tadinya ana pikir mungkin maksudnya adalah tinggal mengingat hadits saja. Atau membuka catatan haditsnya. Akan tetapi setelah Beliau menceritakan bahwa gurunya saja apabila mau bertemu Rosululloh صلى الله عليه وسلم bisa, dan beliau pernah kesulitan dalam desertasinya kemudian ditanyakan langsung oleh gurunya kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم tentang hadits yang sulit tersebut.

Bukankah ini suatu yang menakjubkan?! Ajaib! Dimana kalau kita lihat dengan hati jernih kepada ajaran Islam ini serta melihat kepada para Salaful Umah dan para Imam dalam aplikasinya, maka akan kita temukan perbedaan yang sangat jauh antara keduannya dengan tokoh itu. Mudah saja, kita lihat kitab kitab para ulama seperti kitab tafsir seperti tafsir At-Thabari, kitab hadits seperti Al-Muwatho’, Musnad Imam Ahmad, musnad Asy-Syafi’i, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Kutubus-Sunan, Mustadrak, dll. Semua ada rangkaian sanadnya. Kalau seandainya keyakinan tokoh itu benar, maka kitab kitab para Ulama tentu tak perlu memakai sanad. Cukup mereka berkata dalam kitab mereka : Haddatsana Rosululloh, atau Sami’tu Rosululloh, atau Akhbarna Nabi atau telah berkata Rosululloh kepadaku semalam, dll. Tetapi pada kenyataannya tidak demikian.

Dan perkataan Beliau tentang Imam Syafi’i, maka hal tersebut tidaklah benar. Kenapa? Karena tidak ada satupun pernyataan Imam Syafi’I bahwa beliau bisa langsung ketemu dengan Rosululloh. Bahkan yang ada adalah sebaliknya. Lihat kitab kitab Beliau kalau beliau berpendapat pasti ditopang dengan dalil. Apabila ditopang dengan Hadits Nabi صلى الله عليه وسلم, maka beliau menyebutkan sanad tetapi apabila beliau tidak menyebutkan sanad dalam satu kitab maka sanadnya ada dalam kitab beliau lainnya (dan ini sudah ma’ruf). Berarti logikanya Beliau tidak bertemu langsung dengan Rosululloh, kalau Beliau bisa bertemu langsung dengan Rosululoh maka Beliau tidak akan memakai sanad.

Telah berkata Imam Asy-Syafi’i yang menunjukkan Beliau berlepas diri dari kema’suman, karena kalau Beliau dapat bertemu langsung dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم sekehendak hati, maka pendapat Beliau akan selalu benar, dan tidak akan berkata seperti ucapan Beliau berikut:
“Jika kalian mendapati didalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rosulullah, maka berkatalah kalian dengan sunnah tersebut dan tinggalkanlah apa yang kukatakan”. (Siyaru A’laamin Nubala, 10/34. lihat sifat shalat Nabi, karya syaikh Al-Albani).
“Setiap masalah yang telah shahih khabarnya dari Rosulullah menurut Ahli Naql (ulama hadits) yang menyelisihi apa yang kukatakan, maka aku bersedia untuk menanggalkan perkataanku, baik ketika aku masih hidup, maupun setelah aku mati”. (Qowaa’idul Ahkam, 2/173). Hal ini menunjukkan bahwa Imam Asy-Syafi’i, tidak bisa bertemu Nabi صلى الله عليه وسلم (kecuali atas kehendak Allah تعالى melalui mimpi).

Dan ana rasa pembahasan diatas sudah cukup menjadi pijakan kita dalam menangkal subhat tokoh ini dan semisalnya. Wallahu A’lamu Bishowab.

by, Abu Aisyah.

Tidak ada komentar: