Masih saja, sebagian kaum muslimin kukuh dengan kebiasaannya membaca surah yasin kepada orang yang akan maupun telah meninggal dunia. Tidak sedikit dari mereka percaya, bacaan surah yasin dapat membawa berkah, maslahat dan ampunan bagi si mayit. Parahnya, sebagian da’i – da’i kita malah menyerukannya dengan berlandaskan pada hadits – hadits yang sebenarnya tidak sah untuk dijadikan sandaran ’amalan. Banyaknya hadtis lemah, palsu, munkar, tidak ada asalnya yang tersebar di masyarakat muslim hari ini adalah kenyataan yang wajib dihilangkan, untuk kemudian menggantinya (hanya) dengan hadits – hadits shahih, yang sah dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam.
Oleh sebab itu, kami menuliskan risalah ini, semoga umat membacanya, memahaminya, sehingga bid’ah – bid’ah seputar pengamalan surah yasin dapat dibasmi. Wallahu Waliyyuttaufiq.
Hadits – Hadits Palsu Fadhilah Surah Yasin
HADITS PERTAMA
Artinya : Barangsiapa membaca surat Yaasiin karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itu, bacakan-lah surat itu untuk orang yang akan mati di antara kalian.”
[HR. Al-Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman]
Keterangan: HADITS INI LEMAH
Lihat Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5785) dan Misykatul Mashaabih (no. 2178).
HADITS KEDUA
Artinya : Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap Jum’at dan membacakan surat Yaasiin (di atasnya), maka ia akan diampuni (dosa)nya sebanyak ayat atau huruf yang dibacanya.
Keterangan: HADITS INI PALSU
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy (I/286), Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan (II/344-345) dan ‘Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Sunannya (II/)91 dari jalan Abu Mas’ud Yazid bin Khalid. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Thaifi, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, dari Abu Bakar secara marfu’.
Lihat Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 50).
HADITS KETIGA
Artinya : Barangsiapa membaca surat Yaasiin setiap malam, niscaya diampuni (dosa)nya.” [HR. Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman]
Keterangan: HADITS INI (ÖóÚöíúÝñ) LEMAH
Lihat Dha’if Jami’ush Shaghir hadits no. 5788 dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 4636.
HADITS KEEMPAT
Artinya : Surat Yaasiin itu bisa memberi manfaat bagi sesuatu tujuan yang dibacakan untuknya.”
Keterangan: HADITS INI TIDAK ADA ASALNYA
Periksa: Al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’, oleh ‘Ali al-Qari’ (no. 414 hal. 215-216), ta’liq: Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Kata Imam as-Sakhawi: “Hadits ini tidak ada asalnya.”
Periksa: Al-Maqaashidul Hasanah (no. 1342).
HADITS KELIMA
Artinya : Surat Yaasiin itu hatinya al-Qur-an, tidaklah seseorang membacanya karena mengharapkan keridhaan Allah dan negeri akhirat (Surga-Nya), melainkan akan diampuni dosanya. Oleh karena itu, bacakanlah surat Yaasiin itu untuk orang-orang yang akan mati di an-tara antara kalian.”
Keterangan: HADITS INI LEMAH
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V/26) dan an-Nasa'i dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah (no. 1083) dari jalan Mu’tamir, dari ayahnya, dari seseorang, dari AYAH-NYA, dari Ma’qil bin Yasar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ....”
Dalam hadits ini ada tiga orang yang majhul (tidak di-ketahui namanya dan keadaannya). Jadi, hadits ini lemah dan tidak boleh dipakai.
Periksa: Fat-hur Rabbani (VII/63).
HADITS KEENAM
Artinya : Bacakan surat Yaasiin kepada orang yang akan mati di antara kalian.”
Keterangan: HADITS INI LEMAH
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V/26-27), Abu Dawud (no. 3121), Ibnu Abi Syaibah, an-Nasa-i dalam Amalil Yaum wal Lailah (no. 1082), Ibnu Majah (no. 1448), al-Hakim (I/565), al-Baihaqi (III/383) dan ath-Thayalisi (no. 973), dari jalan Sulaiman at-Taimi, dari ABU UTSMAN (bukan an-Nahdi), dari AYAHNYA dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ...”
Hadits ini LEMAH, karena ada tiga sebab yang menjadikan hadits ini lemah:
[1]. ABU ‘UTSMAN seorang rawi majhul.
[2]. AYAHNYA juga majhul.
[3]. Hadits ini mudhtarib (goncang) sanadnya.
Kata Ibnul Mundzir: “Abu Utsman dan bapaknya bukan orang yang masyhur (tidak dikenal).”
Lihat ‘Aunul Ma’bud (VIII/390).
Kata Imam Ibnul Qaththan: “Hadits ini ada ‘illat (penyakit)-nya, serta hadits ini MUDHTHORIB (goncang) dan Abu ‘Utsman majhul.”
Kata Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dan ad-Daraquthni: “Hadits dha’if isnadnya dan majhul, dan tidak ada satupun hadits yang shahih dalam bab ini (yakni dalam bab membacakan Yaasiin untuk orang yang akan mati).”
Periksa: Talkhisus Habir ma’asy Syahril Muhadzdzab (V/110), Fat-hur Rabbani (VII/63) Irwaa-ul Ghaalil (III/151).
Kata Imam an-Nawawi: “Isnad hadits ini dha’if, di dalamnya ada dua orang yang majhul (Abu ‘Utsman dan bapaknya).” Lihat al-Adzkaar (hal. 122).
HADITS KETUJUH
Artinya : Tidak ada seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan surat Yaasiin, di sisinya (yaitu ketika ia sedang naza’) melainkan Allah akan mudahkan (kematian) atasnya.”
Keterangan: HADITS INI PALSU
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ahsbahan (I/188) dari jalan MARWAN BIN SALIM ALJAZAIRI dari Shafwan bin ‘Amr dari Syuraih dari Abu Darda secara marfu’.
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang sering memalsukan hadits, yaitu MARWAN BIN SALIM AL-JAZAIRI.
Kata Imam Ahmad dan an-Nasa-i: “Ia tidak bisa dipercaya.”
Kata Imam al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim: “Ia munkarul hadits.”
Kata Abu Arubah al-Harrani: “Ia sering memalsukan hadits.”
Periksa: Mizaanul I’tidal (IV/90-91). Lihat juga Irwaa'ul Ghalil (III/152).
Hadits-hadits di atas sering dijadikan pegangan pokok tentang dianjurkannya membaca surat Yaasiin ketika ada orang yang sedang naza’ (sakaratul maut) dan ketika berziarah ke pemakaman kaum Muslimin terutama ketika menziarahi kedua orangtua. Bahkan sebagian besar kaum Muslimin menganggap hal itu ‘Sunnah’? Maka sekali lagi saya jelaskan bahwa semua hadits-hadits yang menganjurkan itu LEMAH, bahkan ada yang PALSU, sebagaimana yang sudah saya terangkan di atas dan hadits-hadits lemah tidak bisa dijadikan hujjah, karena itu, orang yang melakukan demikian adalah berarti dia telah berbuat BID’AH. Dan telah menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sah yang menerangkan apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang sedang dalam keadaan naza’ dan ketika berziarah ke kubur.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Membacakan surat Yaasiin ketika ada orang yang sedang dalam keadaan naza’ dan membaca al-Qur'an (membaca surat Yaasiin atau surat-surat lainnya) ketika berziarah ke kubur adalah BID’AH DAN TIDAK ADA ASALNYA SAMA SEKALI DARI SUNNAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM YANG SAH.
Lihat Ahkamul Janaa-iz wa Bida’uha (hal. 20, 241, 307 & 325), cet. Maktabah al-Ma’arif.)
Justru sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Ketika Ada Orang yang Sedang dalam Keadaan Naza’, yakni :
Pertama
Di-talqin-kan (diajarkan) dengan ‘Laa Ilaaha Illallah’ agar ia (orang yang akan mati) mengucapkan ”Laa Ilaaha Illallah”.
Dalilnya:
Artinya : Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ajarkanlah ‘Laa Ilaaha Illallah’ kepada orang yang hampir mati dari an-tara kalian.”
Hadits SHAHIH, riwayat Muslim (no. 916), Abu Dawud (no. 3117), an-Nasa'i (IV/5), at-Tirmidzi (no. 976), Ibnu Majah (no. 1445), al-Baihaqi (III/383) dan Ahmad (III/3).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar kalimat Tauhid ini yang terakhir diucapkan, supaya dengan demikian dapat masuk Surga.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya : Barangsiapa yang akhir perkataannya ‘Laa Ilaaha Illallah,’ maka ia akan masuk Surga.” [ Hadits riwayat Ahmad (V/233, 247), Abu Dawud (no. 3116) dan al-Hakim (I/351), dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.]
Kedua
Hendaklah mendo’akan kebaikan untuknya dan kepada mereka yang hadir pada saat itu. Hendaknya mereka berkata yang baik.
Dalilnya:
Artinya : Dari Ummu Salamah, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Apabila kalian menjenguk orang sakit atau berada di sisi orang yang hampir mati, maka katakanlah yang baik! Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan (do’a) yang kalian ucapkan.’” [Hadits SHAHIH riwayat Muslim (no. 919) dan al-Baihaqi (III/384) dan selain keduanya.]
PENJELASAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH TENTANG FADHILAH-FADHILAH SURAT YASIN
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H) berkata: “(Riwayat-riwayat) yang menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan (fadhaa'il) surat-surat dan ganjaran bagi orang yang membaca surat ini akan mendapat pahala begini dan begitu dari awal al-Qur'an sampai akhir sebagaimana yang disebutkan oleh Tsa’labi dan Wahidi pada awal tiap-tiap surat dan Zamakhsyari pada akhir surat, semuanya ini kata ‘Abdullah bin Mubarak: ‘Semua hadits yang mengatakan: ‘Barang siapa yang membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu.... SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Mereka (para pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya orang-orang yang membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka memalsukannya.’”
Mereka berkata: “Tujuan kami membuat hadits-hadits palsu agar manusia sibuk dengan (membaca al-Qur'an) dan menjauhkan (kitab-kitab) selain al-Qur'an.” Mereka (para pemalsu hadits) adalah orang-orang yang sangat bodoh!!! Apakah mereka tidak tahu hadits:
“Artinya : Barangsiapa yang berkata apa yang aku tidak katakan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” [Hadits Mutawatir]
Periksa: Al-Manarul Muniif fis Shahih wadh Dhai’if hal. 113-115, tahqiq: Abdul Fattah Abu Ghaddah.
KHATIMAH
Hadits-hadits tentang fadhilah surat Yaasiin adalah LEMAH dan PALSU, sebagaimana yang sudah saya terangkan di atas. Oleh karena itu hadits-hadits tersebut tidak bisa dipakai hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dari surat-surat yang lain dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi yang membaca surat ini. Tentang masalah mendapat ganjaran bagi orang yang membaca al-Qur'an memang ada, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Artinya : Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur-an, akan mendapatkan suatu kebaikan. Sedang satu keba-ikan akan dilipatkan sepuluh kali lipat. Aku tidak berkata, Alif laam miim, satu huruf. akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf. [HR. At-Tirmidzi (no. 2910). Lihat pula Shahih at-Tirmidzi (III/9) dan Shahih al-Jaami’ush Shaghir (no. 6469), dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu]
Sesudah kita membaca, kita diperintah untuk memahami isi al-Qur'an. Karena Allah memerintahkan untuk mentadabburkan dan mengamalkan isi al-Qur'an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan al- Qur'an? Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An-Nisaa’: 82]
"Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an atau-kah hati mereka terkunci?” [Muhammad: 24]
[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
20 komentar:
tp apakah orang NU mo baca ini ya?
Assalaamu'alaykum..wah trimakasih ya nambah lagi ilmu ku..kapan2 mampir`ya kblogku..hehe
http://rendyasylum.blogspot.com/2010/05/pembahasan-hadits-tentang-yaasin.html
Wa'alaikumussalam Warohmatulloh.
Insya Allah Akhi..
Assalamualaikum wr. Wb. . .
SAYA RIZKI WAROHMAH. , .
SY SEORG MUHAMMADIAH. . . .
kmi klu ad org yg bca yasin utk org mati. . Kmi tak mau mendekat. . Krn i2 tlh mengingkari ayat2 al-quran yg laenny. . . .
Nah sayakan msh sklh. . Trus di sklh kbnran pemilik yayasan i2 sakit jd sekolah mengadakan baca yasin utk ksmbuhan pmilik yysn. . .
.
Saya tdk mmbaca yasin tpi ad ayat yg intiny bgini JK AD ORG YG MENGOLOK2 AYAT AL-QURAN N XAN duduk diantara mereka maka XAN adlh org2 munafik yg akan di masukkan nrka. . . .
N ad ayat lg. . . JKA AD ORG YG MMBACAKANMU AL-QURAN HNDAKLAH KMU DIAM. . . NAH klu org yg bca yasin ntukan brg2. . . N gak ad yg mendengarlan. . .
N DI SKLH AQ GAK BS KELUAR CZ PSTI KNA MRH. . . DGN SGT TRPAKASA AQ DU2K DIANTARA MEREKA. . . . . . . Gimana mrut anda. . . .berdosakah saya?
Wa'alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh.
Ikhwani Fillah, Alhamdulillah antum telah mengetahui akan tidak disyari'atkan acara yasinan yang dilakukan oleh sekolah antum. Dan hendaklah setelah kita mengetahui akan bid'ahnya acara tersebut, maka kita jauhi serta kita peringatkan saudara kita dari acara tersebut, tentunya dengan cara yang baik. Dan dalam kasus antum ana ada sedikit nasehat, seandainnya antum punya kemampuan untuk meninggalkan majelis yasinan tersebut maka kewajiban antum adalah meninggalkannya, atau antum bisa bilang secara baik baik keorang tua antum untuk pindah sekolah yang bermanhaj lurus.. Tetapi apabila antum tidak mempunyai kemampuan pindah sekolah dan antum takut dikeluarkan dari sekolah karena tidak ikut acara itu, serta ada kemudhorotan yang lainnya, maka kami berharap sekedar duduknya antum diacara tersebut termasuk dalam keadaan darurat. firman Allah Ta'ala:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (Q.S. Al-Baqoroh, 286).
Wallahu A'lamu Bishowab.
bagaimana dengan pendapat imam ibnu taymiyyah di dalam kitab fatawa beliau,di juz 24 (klo tdk salah)silahkan cari di juz yg laen klo tdk ada di juz tsb,beliau berkata,bahwa yg tidk mengakui bhw pahala pembacaan al Quran sampe ke myyt,maka dia adalah ahli bid'ah????sy bingung mau ambil pendapat yg mana???imam ibnu taymiyyah ra,ato anti yg msh bodohhhhhhh ini?????yg bru bsa comot pendapat sana sini yg tdk ada di kitab aslinya.......
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan, “Bagaimana dengan orang yang membaca Al Qur’an Al ‘Azhim atau sebagian Al Qur’an, apakah lebih utama dia menghadiahkan pahala bacaan kepada kedua orang tuanya dan kaum muslimin yang sudah mati, ataukah lebih baik pahala tersebut untuk dirinya sendiri?”
Beliau rahimahullah menjawab:
Sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang mencocoki petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan dalam khutbahnya,
خَيْرُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
”Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap bid’ah adalah sesat.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka.”
Ibnu Mas’ud mengatakan,
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ ؛ فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ
“Siapa saja di antara kalian yang ingin mengikuti petunjuk, maka ambillah petunjuk dari orang-orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah. Mereka yang harus diikuti adalah para sahabat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”
Jika kita sudah mengenal beberapa landasan di atas, maka perkara yang telah ma’ruf di tengah-tengah kaum muslimin generasi utama umat ini (yaitu di masa para sahabat dan tabi’in, pen) bahwasanya mereka beribadah kepada Allah hanya dengan ibadah yang disyari’atkan, baik dalam ibadah yang wajib maupun sunnah; baik amalan shalat, puasa, atau membaca Al Qur’an, berdzikir dan amalan lainnya. Mereka pun selalu mendoakan mukminin dan mukminat yang masih hidup atau yang telah mati dalam shalat jenazah, ziarah kubur dan yang lainnya sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Allah. Telah diriwayatkan pula dari sekelompok ulama salaf mengenai setiap penutup sesuatu ada do’a yang mustajab. Apabila seseorang di setiap ujung penutup mendoakan dirinya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, dan kaum mukminin-mukminat yang lainnya, ini adalah ajaran yang disyari’atkan. Begitu pula doa mereka ketika shalat malam dan tempat-tempat mustajab lainnya.
Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sedekah pada mayit dan memerintahkan pula untuk menunaikan utang puasa si mayit. Jadi, sedekah untuk mayit merupakan amal sholeh. Begitu pula terdapat ajaran dalam agama ini untuk menunaikan utang puasa si mayit.
Oleh karena itu, sebagian ulama membolehkan mengirimkan pahala ibadah maliyah (yang terdapat pengorbanan harta, semacam sedekah) dan ibadah badaniyah kepada kaum muslimin yang sudah mati. Sebagaimana hal ini adalah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah. Jika mereka menghadiahkan pahala puasa, shalat atau pahala bacaan Qur’an maka ini diperbolehkan menurut mereka. Namun, mayoritas ulama Malikiyah dan Syafi’iyah mengatakan bahwa yang disyari’atkan dalam masalah ini hanyalah untuk ibadah maliyah saja.
Oleh karena itu, tidak kita temui pada kebiasaan para ulama salaf, jika mereka melakukan shalat, puasa, haji, atau membaca Al Qur’an; mereka menghadiahkan pahala amalan mereka kepada kaum muslimin yang sudah mati atau kepada orang-orang yang istimewa dari kaum muslimin. Bahkan kebiasaan dari salaf adalah melakukan amalan yang disyari’atkan yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu, setiap orang tidak boleh melampaui jalan hidup para salaf karena mereka tentu lebih utama dan lebih sempurna dalam beramal. Wallahu a’lam.” –Demikian penjelasan Syaikhull Islam Ibnu Taimiyah-[Majmu’ Al Fatawa, 24/321-323]
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika ada yang mengatakan bahwa bermanfaat bagi si mayit ketika dia diperdengarkan Al Qur’an dan dia akan mendapatkan pahala jika mendengarnya, maka pemahaman seperti ini sungguh keliru. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda,
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia itu mati, amalannya akan terputus kecuali melalui tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang dimanfaatkan, atau [3] anak sholeh yang mendo’akan dirinya. ”
Oleh karena itu, setelah kematian si mayit tidak akan mendapatkan pahala melalui bacaan Al Qur’an yang dia dengar dan amalan lainnya. Walaupun memang si mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun ingat, amalan orang lain (seperti amalan membaca Al Qur’an, pen) tidak akan berpengaruh padanya.”[Majmu’ Al Fatawa, 24/317.]
Jadi klaim bahwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membid'ahkan orang yang tidak mengakui pahala kirim bacaan Qur'an untuk mayit, adalah tidak benar. Bahkan dari kesimpulan kalam Syaikh, acara tersebut tidak DILAKUKAN SALAF KITA YANG SHOLIH. Wallahu A'lam.
Silahkan anta lihat, (http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html)
anti benar2 aneh,didalam majmu' fatawa imam ibnu taimiyyah,tak bahasa yg ati buat,yg megatas amakan beliau,anti pendusta,lht di kitab beliau yg berbhsa 'arab,jgn dr terjemahan orang2 yg tak faham bhs 'arab,sangat banyak sekali sy temukan kesalahan2 dalam mengartikan kitab2 hadits ato kitab2 karangan 'ulma,belajar bhs arab jangan cuma من انث انا ابو نيل klo cuma itu2 aja yg kalian pelajari sampe botak saryawan pun kagak bakal nyambung,,,,JAKA SEMBUNG NAIK OJEK KAGAK NYAMBUNG NYEEEET....!!!!
dari mana anti dapatkan penambahan arti dan amalan lainnya?????anti jgn berdusta atas nama ulama,,,,klo allah msh menganggap kamu manusia psti kmu sdh di azab,tp munkin Allah SWT sdh menganggapmu kerbau jd Allah SWT biarkan enti berkeliaran,klopun anti BAB bi pengimaman msjd pst tdk apa2 kra kerbau bebas melakuka apa saja.
Kepada Yang mengaku Ulama Salaf Ashli:
Ana ucapkan maaf kalau ada "salah terjemahan" tolong ajari saya terjemahan yang benar bagaimana? DAN MAAF ANA SEORANG LELAKI (NAMANYA AJA ABU!) KOK DIPANGGIL ANTI?!. Dan ana rasa komentar anda tidak mengenai esensi dari pembahasan. Anda ngotot kalau Ibnu Taimiyah membid'ahkan orang yang tidak mengakui pahala bacaan Qur'an sampai kemayit. Coba mana buktinya? Buktikan kepada ana yang dho'if ini. copas juga nggak papa,he. tapi jangan dari situs sesat ya....
Ana berdo'a untuk ana dan anda agar Allah selalu memberikan kita petunjuk dan menambah kepada kita Ilmu yang bermanfaat...
nampaknya anti yg dpt makalah dr situs sangat sesar dan menyesatkan,ane kgk usah capek2 ngasih arti yg benar,,,klo anti bsa artikan sendiri,pake 'ilmu nahwu sorof ma'ani dan balaghohnya,jgncm ngandalin bhsa arab TKW,MSLH PERKATAAN IMAM IBNU TAYMIYYAH,,YG MENGATAKAN AHLI BID'AH KPD ORANG YG TDK INKAR TRHDP BISANYA MYT MNGMBIL MANFA'AT DR KEBAIKAN org yg msh hdp(bacaan al quran salah satu dr sekian bnyknya kebaikan)lht di ktb fatawa beliu juz 24/306,anti baca sendiri,bli kitabnya,jgn cuma nyopot dr situs maha sesat..yg penulisnya hnya orang2 bodoh tp dia tdk sadar klo dia orang yg bodoh....hmmmmm kasian bngt lho..mau2nya di bodohin sama orang bodoh...jgn sombong2 lah,,,ngaca aja dulu banyak...imam ibnu taimiyyah saja yg se orang ulama besar...arif dan bijak menjawab setiap pertanyaan..anti yg bru lhr kmaren sore dah macam paling pintar...
mana jawabanmu banci....?????sdh dpt blum kitabnya,ato lg bingung nyari artikel orang...dassar guobbbbloooggg....!!!!anak kemaren sore udah petangtang petengteng...ngaji aja trus..gx usah sok pintar dlu..msh PRA TK,kok ngritik REKTOR....gx ush geritik 'ulama dulu,ni ane aja yg ladenin lho,,klo lho pngn tau brp umur ane,ane msh 16 th,skrng ane lg mesantren di BANTEN...jwb GUOBLOGGG....ANTEK YAHUDI...!!!
Kpd yg ngaku ulama salaf ashli: wahai saudaraku, hati2 dlm melontarkan celaan. ketahuilah! untuk memahami qoul 'ulama yg seolah bertentagn ada metodenya.
1. Dengan menjama' semua qoul, kemudian mengkorelasikanya untk diambil istimbath hukum.
2. Memahami mana qoul qoddim mana qoul jadid.
3. apabila 2 hal tsbt tdk bisa maka ditarjih.
Dan dlm mslh ini, kita jama' perkataan syaikh. kenapa, krn ada perkataan syaikh (sebagaimana yg ana nukil diatas),
yg memalingkan dari makna yg anda pahami!
Ini tdk sulit ko, perkataan syaikh yg anda nukil, syaikh mengingkari orang yg tdk mengakui manfaat dari amalan orang lain kpd mayit. NAH anda salah disini!
anda memutlakkan perkataan syaikh dan tdk mau melihat qoul syaikh lainnya yg memalingkan makna dari tabdi' syaikh. misal Kalo kita pahami qoul syaikh sebagaimana pemahan anda! maka syaikh telah membid'ahkan sebagian 'ulama mazhab Syafi'ì dan Maliky.
Lihat kembali dari perkataan syaikh ibnu Taimiyah yg ana nukil diatas!
Sebenarnya dgn ana nukilkan qoul syaikh, maksud ana agar anda paham isyarat dari ana. Tapi nyatanya tdk.
Dan ketahuilah, apabila kita meninggalkan sebagian qoul 'ulama, dan mengambil pendapat 'ulama yg kuat dlm suatu permasalahan, bukan berarti kita meninggalkan
semua pendapat 'ulama tsbt. Kita mencintai 'ulama, tp kebenaran lebih kita cintai..
Wallahu A'lamu bishowab..
O iya, anda kan mewajibkan mazhab, trus mazhab anda apa? kalo mazhab hambali maka selesai (krn berpendapt sampainya bacaan Qur'an kpd mayit). tapi kalau anda bermazhab Syafi'i, maka anda mengingkari pendapat dari mazhab Syafi'i (ini musibah bagi anda). krn telah ma'ruf tentang pendapat mazhab Syafi'i akan hal ini. (lihat tafsir ibn Katsir QS. an-Najm 39, dll).
Semoga Allah memberikan kita bimbingan dan petunjuk kejalan yg lurus..
Sudah dulu komen dari ana, dan tentang komen anda yg kedua, tak perlu ana bahas!
Ana wasiatkan kpd ana pribadi dan anda untuk tidak jenuh dlm blajar..
dan anda masih muda, masih bnyak waktu dlm menuntut ilmu. maka blajar!
Bagaimana akan bisa memahami qoul 'ulama, kalau dhomir aja kagak tau!
Wallahu musta'an..
@akh abu nayla,
Sudahlah akh, ga ush repot2 antum mengomentari komen2 spt ulama salaf ashli. Ga ada gunanya komen spt itu antum tanggapi lbh lanjut, dan ana jg akan memberikan kritik untuk antum : hendaknya antum memfilter komen2 yg masuk khususnya yg menggunakan bahasa spt bahasa kebun binatang. Ini agar blog antum dpt digunakan sebagai ajang belajar dan diskusi secara ilmiah, bukan arena debat kusir dan ajang menang-kalah. Hendaknya antum lebih memperhatikan hal ini.
Wassalam,
--hamba yg dho'if--
@Anonim
Jazakallahu khoiron atas nasehatnya...
Posting Komentar